Senin, 22 Juni 2015

Sabetan Lidi di Pulau Ambon

Tradisi pukul sapu di Maluku Tengah sebagai simbol akan setiap tetesan darah yang jatuh dan meresap ke tanah. Itu sebagai pengingat agar warga kelak berkumpul kembali di tempat tersebut.

SAPU lidi yang terbuat dari sayatan pohon enau atau pohon kelapa, tidak sekadar berguna sebagai alat penyapu halaman rumah atau tempat ti dur, tetapi memiliki fungsi kultural dan sosial bagi masyarakat adat di Desa Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, Maluku.

Desa yang berada di Pulau Ambon itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Patri tertanam dalam keseharian hidup.

Mereka memiliki tradisi adat yang disebut pukul sapu. Lidi sebagai alat untuk digunakan dalam perhelatan adat. Ya, sudah barang tentu, sabetan lidi ke tangan atau punggung, pastilah sakitnya terasa sekali.

Kebiasaan saling memukul dengan lidi (pohon mayang) merupakan salah satu tra disi unit masyarakat kedua desa bertetangga. Mereka menjaga hubungan persaudaraan lewat ritual berdarah yang hingga kini masih bisa kita temukan.

Pukul sapu terbilang olahraga ketangkasan yang ekstrem. Biasanya digelar setiap tahun, bertepatan dengan perayaan 7 Syawal setelah umat muslim selesai me rayakan Idul Fitri. Tradisi ini pun telah ada sejak abad ke-16, pada saat masa penjajahan Portugis dan Belanda di daerah rem pah-rempah itu. Pada Juli mendatang, tradisi pukul sapu pun akan digelar kemba li di Morela.

Pelaksanaan ritual pukul sapu bisa me narik perhatian warga kampung. Para pemuda hingga orang dewasa berkumpul untuk melakukan perhelatan yang menan tang nyali itu. Anak-anak pun diperbolehkan meng ikuti ritual itu. Namun, hanya pada babak-babak tertentu yang telah disetujui tetua adat dan orangtua.

Para peserta kerap menggunakan celana pendek dan berikat kepala. Setiap regu ha nya dibedakan oleh warna celana yang digunakan, yakni merah/kuning atau hitam/ kuning. Satu kelompok pemuda dibatasi 20-30 orang.

Sehari sebelum ritual adat dilakukan, pa ra pemain harus dikumpulkan dalam rumah adat masing-masing untuk melakukan doa bersama. Tetua adat akan memimpin jalannya ritus dengan cara meminta pertolongan dan restu kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Pertempuran Seorang peserta hanya memegang dua ikat lidi mentah, biasanya yang baru dipotong dari pohon aren. Dua regu pemuda pun memasuki arena. Seorang tokoh adat pun dipilih sebagai wasit. Dengan peluitnya, sang wasit memandu jalannya atraksi saling memukul antarkedua kelompok yang berhadap-hadapan.

Saat seruling berbunyi kelompok bercelana merah, misalnya, dipersilakan lebih dahulu untuk memukul kelompok bercelana putih. Begitu pun sebaliknya, saat seruling dibunyikan lagi, giliran kelompok bercelana putih yang menyerang dan memukul kelompok bercelana merah.

Area pukulan hanya dibatasi dari dada ke bagian bawah. Sabetan lidi yang mengenai badan lawan mengeluarkan bunyi cukup keras menyerupai lecutan cambuk. Terkadang, tiga batang lidi yang digunakan sudah hancur hanya dalam hitungan dua atau tiga kali sabetan.

Pukulan lidi berkali-kali mengakibatkan guratan merah memanjang sekujur tubuh para pemain. Sebagian besar malah mengeluarkan darah. Bahkan, tidak jarang po tongan batangan lidi pun turut tertancap pada kulit dan luka di tubuh para pemain.

Meski saling bertarung menggunakan kekuatan pukulan, setiap peserta tak mengerang kesakitan. Di situlah, mereka terus menunjukkan kejantanan dan ketangguhan sebagai pemuda-pemuda pemberani.

Pergelaran di arena selama 15 menit, mi salnya, begitu memberikan suasana berbeda. Tubuh para petarung pun tampak memerah, membengkak, dan meneteskan darah. Para peserta yang saling memukul seperti ketagihan. Meski darah mengucur hingga ke tanah, mereka terus menunjukkan ketidakgentaran terhadap kelompok lawan.

Konon, upacara adat Pukul Sapu di Morela merujuk pada perjuangan Achmad Leakawa berjuluk Kapitan Telukabessy beserta anak buahnya, ketika menghadapi tentara Belanda dalam Perang Kapahaha (1643-1646). Perang ini dipantik oleh pendirian markas VOC di Teluk Sewatelu, Ambon, pada 1636.

Pada perang itu, Kapitan Telukabessy dapat meloloskan diri. Namun, anak buahnya banyak yang dapat ditangkap. Setelah ditawan selama tiga bulan di Teluk Sewatelu, anak buah Kapitan Telukabessy dibebaskan Belanda.

Sebelum berpisah dan kembali ke daerah asal masing-masing, mereka menggelar aca ra perpisahan yang terbilang heroik.

Se lain tari dan nyanyian lagu daerah, ada ritual pukul sapu. Tujuan acara pukul sapu sederhana. Tetesan darah dari tubuh mereka yang jatuh dan meresap ke tanah dapat mengingatkan mereka untuk berkumpul kembali kelak.

Namun, menurut versi dari tetua-temua di Desa Mamala, tradisi ini dilakukan secara turun-temurun untuk mengenang keberhasilan warga desa setempat membangun masjid pada abad ke-17. Saat membangun masjid, warga kesulitan menyambung kayukayunya yang menyebabkan pekerjaannya terbengkalai.

Saat para pemuda saling baku pukul meng gunakan lidih, maka tubuh mereka akan membengkak dan mengeluarkan darah. Untuk itulah, ada resep kuno setempat, yaitu menggunakan minyak khusus yang telah didoakan dan diracik dengan berbagai tumbuhan berkhasiat. Hanya dalam tempo dua atau tiga hari luka tersebut akan mengering dan tidak meninggalkan bekas.

Lewat kesembuhan itulah, sejak ratusan tahun pula, warga menggelar tradisi pukul sapu yang dilakukan setelah perayaan Idul Fitri. Batang lidi bekas atraksi adat itu, bia sanya menjadi rebutan para penonton untuk dibawa pulang. Itu sebagai bukti ke pada sanak keluarga bahwa mereka telah menyaksikan atraksi budaya suguhan pemuda dari Desa Mamala dan Morela.

Kadri Sasole, salah seorang keturunan Kapitan Tulukabessy, mengaku tradisi tergolong ekstrem. Namun, pihaknya ingin menjaga tradisi yang sudah lama hidup di Maluku Tengah. Bagi mereka, tradisi pukul sapu sebagai simbol untuk mengenang kembali sosok para tokoh-tokoh yang gesit dalam melawan penjajah di masa silam.

Antropolog dari Universitas Pattimura, Mus Huliselan, menilai tradisi-tradisi yang berkembang di Pulau Ambon memiliki kekhasan.

Namum, belum banyak yang menuliskan kembali tradisi itu ke dalam bahasa tulis.“Perlu pendokumentasian dan pembukuan sehingga bisa dibaca generasi mendatang,“ paparnya. (Ant/M-2) Sumber Media Indonesia, 21/06/2015, Halaman 9